Kenali Lebih Jauh Apa Itu Corona Agar Tak Panik dan Masuk HoaxÂ

0
22

TABLOIDBINTANG. COM – Pemerintah terus berupaya melaksanakan beragam cara untuk memutus ceroboh rantai penyebaran virus Covid-19. Secara global, kematian akibat Covid-19 tercatat sudah sebanyak 69. 444 roh. Adapun pasien Covid-19 yang berhasi sembuh di seluruh dunia sejumlah 260. 247 orang.

Fenomena pandemik Covid-19, dikategorikan jadi bagian dari isu-isu global baru. Para pakar kesehatan dunia membicarakan Indonesia menghadapi lonjakan jumlah anak obat. Hingga hari ini, kasus membangun Covid-19 sudah menyebar di 32 provinsi.

Penambahan urusan masih terjadi di sejumlah daerah, terutama di DKI Jakarta. Empat provinsi lainnya yang masuk pada daftar lima besar daerah dengan jumlah kasus terbanyak adalah: Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, & Jawa Tengah. Dengan bertambahnya kasus pandemic ini dari hari ke hari, membuat masyarakat semakin kebingungan, tanpa adanya pemahaman yang terang mengenai virus Covid-19. Belum lagi informasi bohong atau hoax yang kian masif di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Dr. rer. nat, Arli Aditya Parkesit sebagai kepala Jurusan Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences (i3l) memberikan perspektif Bioinfromatika mengenai virus Covid-19.

Bagaimana penjabaran corona dari sudut pandang bioinformatics?

Virus Corona baru atau SARS-CoV-2 sebagai penyebab penyakit COVID-19 dapat dianalisis oleh ilmu bioinformatika dalam rangka membongkar-bongkar solusi untuk cetak-biru diagnostik, pengobatan, dan pencegahan dalam bentuk vaksin. Dalam konteks diagnostik, yang dikerjakan adalah navigasi ke basis bukti genome SARS-CoV-2 untuk mencari conserve region yang dapat dikembangkan jadi marker untuk diagnosis molekuler.

Kemudian, dalam konteks pengobatan, ada dua strategi yang dikembangkan oleh bioinformatisi. Yang pertama merupakan menggunakan basis data obat yang sudah ada, atau drug repurposing. Kemudian yang kedua adalah memakai basis data herbal, yang juga sudah banyak dikembangkan oleh China. Terakhir dalam konteks pengembangan vaksin, kita menggunakan metode immunoinformatika untuk mendesain vaksin generasi baru yang lebih aman karena materi genetikanya tidak diikutsertakan.

Perluasan diagnosis, pengobatan, dan pencegahan dengan ilmu bioinformatika ini dimungkinkan secara sudah tersedianya basis data susunan atau sekuens genome dan proteome virus SARS-CoV-2 di basis petunjuk genbank. Sementara itu, struktur 3D proteinnya tersedia di basis keterangan RCSB/PDB (Protein Data Bank).

Apa yang harus dilakukan di situasi saat itu?

Secara ijmal, ikuti guidelines dari pemerintah yang di-benchmark ke SOP WHO, seolah-olah physical distancing, rajin cuci tangan, pakai masker, dan lainnya. Jangan pergi ke rumah sakit kalau tidak sakit berat, dan pertama ikuti petunjuk dari RT/RW terkait pengamanan wilayah masing-masing.

Dissenting opinion atau perbedaan kesimpulan terhadap ketentuan atau kebijakan pemerintah harap serahkan ke ahlinya, seolah-olah pakar epidemiology/public health, dokter ahli penyakit dalam dan paru, maupun ilmuwan yang bekerja di bagian terkait virologi seperti molecular pharmacology, biomedik dan bioinformatics.

Kami para bioinformatisi percaya kalau segala sesuatu harus diserahkan di dalam ahlinya. Pemerintah dan swasta sudah membuka lowongan untuk volunteer terkait pengembangan diagnostic COVID-19, yang akan sangat baik jika diikuti oleh semua pihak terkait.

“Kami sudah punya konsorsium keilmuan bioinformatika, yaitu MABBI (Masyarakat Bioinformatika dan Biodiversitas Indonesia). Dan konsorsium kami sekarang bekerja penuh waktu secara kolaboratif untuk menemukan program diagnostic, pengobatan, dan pencegahan dengan teroptimal terhadap SARS-CoV-2/COVID-19, dan I3L terlibat penuh di konsorsium tersebut, ” kata Arli, dalam informasi persnya.

Benarkah ada vaksin yang sedang diuji coba untuk menangkal corona?

Beberapa negara dengan sedang mencoba mengembangkan vaksin, serta bahkan pemerintah Indonesia sudah membuat task-force untuk mengembangkan vaksin COVID-19. Namun berdasarkan data pohon filogeni terakhir mengenai SARS-CoV-2, virus itu ternyata memiliki beberapa klaster, yang dimungkinkan berkembang menjadi beberapa subtype.

Fenomena ini pula terjadi pada virus lain, sesuai HIV, Flu, dan Dengue/DENV. Konsekuensinya, desain vaksin kedepannya sangat mungkin harus membuat tulang punggung ataupun backbone yang dapat mengkover seluruh klaster, yang bukannya tak kira-kira akan berkembang menjadi subtype sendiri.

Tantangan terbesar semua ini adalah materi genetic SARS-CoV-2 yang berupa RNA, sehingga betul mudah bermutasi. Ini yang menerbitkan pengembangan vaksin sangat menantang, meskipun jika menggunakan ilmu bioinformatika serta instrument biomedis molekuler termutakhir, prospek berhasil selalu ada.