Pertengkaran dalam Perkawinan, Sekadar Bumbu atau Bom Waktu?

0
129

Bertengkar dengan pasangan itu hal biasa di dalam perkawinan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM – Orang tua bilang, bertengkar dengan pasangan itu hal biasa di dalam perkawinan. Namanya juga tengah saling mencari kecocokkan. Maka anggap saja pertengkaran sebagai bumbu perkawinan. Malah tidak seru kalau tidak ada (pertengkaran). Apalagi setelah bertengkar, pasangan justru bisa tambah mesra. Apa benar demikian?

Well, itu kata-kata manis dari orangtua kepada anak-anaknya. Agar pasangan yang baru menikah tidak mudah putus asa menjalani biduk rumah tangga atau sedikit-sedikit ingin cerai. Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi mengutarakan, “Kalau bertengkar wajar. Artinya ada masalah. Dan di dalam hidup, kita memang akan selalu dihadapkan dengan masalah, agar kita selalu berpikir (hingga bertemu dengan solusi),” kata Anggia.

Lalu di dalam berumah tangga ada pihak suami dan istri. Dua orang berbeda isi kepala dan isi hatinya. Belum lagi ketika rumah tangga itu sudah berjalan selama beberapa waktu. Masalah bisa datang bukan saja dari internal suami-istri, tetapi juga anak, mertua, ipar, pekerjaan masing-masing, dan lain-lain. Mulai dari masalah komunikasi, sosialisasi, ekonomi, atau apapun.

“Jadi yang penting adalah bukan bagaimana hidup tanpa masalah (karena itu tidak mungkin), tapi bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah,” cetus Anggia. “Kemampuan mengatasi masalah dari dua orang berbeda yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, inilah yang menjadi poin pentingnya,” imbuhnya.

Lebih jauh Anggia menuturkan, bahwa semakin cerdas keduanya (suami-istri), semakin sehat fisik dan emosinya, penyelesaian masalah akan semakin cepat dan tepat. Efektif dan efisien. Realistis, logis, aktual, faktual, dan inovatif. Bahkan tidak hanya mampu menyelesaikan dan mengatasi masalah yang ada, tapi juga mampu mengantisipasi dan preventif terhadap masalah-masalah lain yang akan muncul.

“Pada akhirnya, masalah besar seperti otomatis menjadi kecil, dan masalah kecil seperti hilang. Dan kemampuan mengantisipasi, mengatasi dan menyelesaikan masalah dengan efektif dan efisien tentu (hampir) tidak mungkin membawa pasangan kepada permasalahan yang sama (berulang-ulang),” ujar Anggia.

Oleh karenanya, adanya masalah, berdebat, bertengkar, adalah bumbu yang membawa kepada semakin kuat dan kokohnya suatu hubungan suami-istri dalam rumah tangga. “Tapiii, bertengkar melulu jelas lain ceritanya. Terlalu sering bertengkar atau berkonflik atau bermasalah berarti ada “makna” yang berbeda atau sebuah bom waktu perkawinan,” simpulnya.  

Pertengkaran adalah bom waktu jika:

– Intensitas terlalu sering, bukan saja setiap hari, tapi dalam sehari bisa lebih dari sekali.

– Meributkan hal yang sama dari waktu ke waktu.

– Membesarkan hal yang kecil, mempermasalahkan yang tidak ada.

– Sudah memiliki dampak yang lebih dalam, baik secara fisik (biasa dikenal KDRT), psikis (stres atau bahkan depresi), perilaku tidak biasa (membutuhkan obat-obatan penenang, anti depresan, atau merokok yang berlebihan, performa kerja menurun, termasuk mulai munculnya perilaku selingkuh).

Rekomendasi