Berat Mana, Wanita Hadapi Pelakor atau Pria Hadapi Pebinor?

0
73

Ilustrasi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM –┬áSeolah menjadi tren, istri makbul merekam pelabrakan pelakor, kemudian diunggah ke media sosial. Istilah pelakor sendiri kini menjadi momok untuk kebanyakan wanita. Mereka yang sudah bersuami, degdegan suaminya diambil pelakor. Mereka yang kebetulan menjadi pelakor, degdegan diciduk istri sah.

Namun berbanding terbalik dengan fenomena pria hadapi pebinor atau perebut bini orang. Berita semrawut berita suami yang mendapati istrinya memiliki pria idaman lain atau bahkan melabrak istrinya yang bermukah, cenderung cepat hilang begitu selalu atau tidak ramai dibicarakan.

Mungkin masyarakat akan bersimpati. Namun kebanyakan beranggapan, kalau toh akhirnya hubungan berujung perceraian, suami yang istrinya pindah ke asing hati dianggap akan mudah mengaduk-aduk pengganti. Maka simpati yang didapatkan pria sebagai korban pebinor (perebut bini orang) tidak sebanyak simpati yang diberikan pada istri objek pelakor. Padahal baik pria maupun wanita yang menjadi korban, situasi itu sama menyakitkan.

Jika kegagalan rumah tangga disebabkan oleh tabiat suami yang tidak bisa ditolerir istri, misalnya kurang memberi nafkah, atau kurang perhatian sehingga pedusi mengultimatum untuk minta cerai, kejadian seperti itu mungkin sudah biasa. Karakter atau kekurangan suami mungkin masih bisa diperbaiki dan istri mampu memaafkan sehingga rumah tangga mereka terselamatkan. Tapi bagaimana kalau istri diam-diam memberikan hatinya pada adam lain dan berselingkuh?

Maka inilah kenyataan – bukti pahit yang harus pria rasakan ketika bersaing dengan pebinor.

Stigma bahwa pria adalah penjaga wanita

Kalau dalam kasus Pelakor masyarakat cenderung menyalahkan tiga belah pihak: 1. Suami yang kegenitan mentang-mentang sudah sukses, 2. Hawa (pelakor) yang maunya instan sanggup lelaki yang sudah mapan, 3. Istri yang dianggap tidak bisa memuaskan suami, maka lain halnya jika seorang perempuan meninggalkan suaminya karena hatinya telah berpindah. Orang cenderung hanya menyalahkan pihak suami yang diselingkuhi.

Alasannya bisa macam-macam; punya istri cantik tapi tidak dimodalin, kurang memuaskan istri di ranjang, kurang mengindahkan, kurang memberi nafkah dan lain-lain. Pada kasus ini orang jarang menyalahkan istri yang diam-diam main dan selingkuhannya. Dan hal ini akan menjadi track record adam pada saat mencoba menjalin hubungan pasca perceraian. Kegagalan itu bakal tercatat dan mungkin membuatnya bimbang bahwa calon pasangannya di masa mendatang menjadikan hal itu sebagai bahan pertimbangan jika ingin mengarungi ke jenjang yang lebih mendalam.

(Depositphotos)

Ayah tidak bisa merangkap jadi ibu

Mungkin egois, tapi kebanyakan pria menikah juga dengan motif bahwa akan ada yang menjaga mereka di hari tua. Namun aforisme berkata, seorang ibu bisa merangkap tugas menjadi seorang ayah, namun ayah tidak akan bisa merangkap tugas sebagai ibu. Maka masa suami terpaksa menerima kenyataan istrinya dicuri pebinor, ketakutan ditinggal sendirian, karena anak – anak kemungkinan akan tetap ikut ibunya, bakal menghantui. Sehingga jelas ditinggalkan pedusi jauh lebih berat dibanding meninggalkan istri. Ketakutan ditinggal sendiri menjadikan pria rentan depresi, apalagi memikirkan harus memulai lagi dari depan. Belum lagi ketakutan menghadapi wasit perceraian, finansial, dan lain – lain.

Sebutan hina sebagai pria yang kubra mempertahankan wanita

Jika seorang wanita suaminya direbut oleh perempuan lain, mungkin dia dicap sebagai perempuan yang gagal mempertahankan rumah tangga, tapi lazimnya mereka tidak akan dicap kandas sebagai seorang ibu. Tapi bagi pria, sebutan sebagai pria batal mempertahankan wanita sungguh menyakitkan. Bukan hanya malu di mata anak dan teman-teman, tapi juga pada dalam pergaulan. Sulit keluar sebab stempel tersebut yang mungkin karenanya berimbas ke pekerjaan atau karir, bisnis, dan hubungan sosial. Pria yang cenderung susah curhat atau mengungkapkan kesedihannya dan “gagal move on” rentan pula terjerumus kepada ketergantungan alkohol dan penyalahgunaan narkoba yang malah membuat kehidupannya semakin rusak.

(Depositphotos)

Lalu harus lestari cool hadapi semua itu

Jika wanita dianggap wajar berteriak, marah, menangis, masa menghadapi masalah rumah tangga yang berat, maka pria tidak bisa. Saat menghadapi kenyataan istrinya memberikan hatinya kepada pria lain, oleh sebab itu seorang pria harus tetap berpengaruh, tidak boleh cengeng, apalagi ekspresif marah – marah ketika cakap istrinya selingkuh. Lingkungan menuntut pria untuk selalu cool dan kalem. Jika tidak, malah balik dibully dan dibilang cengeng sebagai pria atau disebut penjahat jika datang melakukan kekerasan kepada istrinya dengan jelas – jelas selingkuh. Sungguh berat.

Rekomendasi